by

Kenapa Janin Menendang dalam Kandungan

SETIAP ibu hamil akan mengalami pergerakan janin, atau yang dirasakan sebagai tendangan janin dengan intensitas, kekuatan, dan waktu mula yang berbeda-beda. Mengapa demikian

Umumnya, janin telah bergerak semenjak tujuhn minggu ketika mereka mulai menggerakkan leher, tendangan akan terasa saat usia kandungan mencapai 18-22 minggu atau lebih cepat, tergantung ukuran, posisi janin, dan elastisitas perut ibu.

Seiring pertumbuhan janin, menurut ulasan penelitian tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, bayi dalam kandungan secara bertahap menambahkan lebih banyak gerakan seperti cegukan, menggerakkan lengan dan kaki, peregangan, menguap, sampai mengisap jempol.

Berlandaskan pengetahuan itu, para ilmuwan mulai mengungkapkan alasan kenapa janin menendang.

Selain sebagai bentuk respons terhadap rangsangan eksternal seperti konsumsi makanan ibu atau suara, pun suplai darah yang meningkat ketika ibu berbaring menyamping. Ternyata, tendangan janin pada dasanya bertujuan mempersiapkan bayi hidup di luar rahim, pun “mengabarkan” perkembangannya yang normal dan sehat. Berikut ulasannya.

Aktivitas otak bayi

Studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menemukan bahwa janin di trimester tiga atau tahap akhir kehamilan akan menendang atau memukul ketika mereka memetakan tubuhnya sendiri untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Aktivitas itu secara langsung mengaktifkan wilayah otak janin yang terhubung ke input sensorik, atau dikenal sebagai korteks somasensori.

Lebih lanjut, tendangan memungkinkan janin membangun jaringan otak dasar sehingga bisa mengembangkan “rasa tubuh”, seperti memahami apa saja bagian tubuh mereka yang bergerak dan bagaimana rasanya saat disentuh.

“Aspek mendasar dari sentuhan ini segera berguna ketika lahir untuk keterampilan seperti menyusui,” kata Kimberley Whitehead, seorang mahasiswa doktoral di University College London (UCL), yang memimpin studi kepada Live Science.

Namun, pemetaan spasial awal macam tendangan ini hanya berlangsung sampai kelahiran. Dalam beberapa hari, jenis gerakan yang sama tidak lagi memiliki efek serupa pada otak.

Untuk studi, peneliti menganalisis gelombang otak 19 bayi berusia dua hari–beberapa di antaranya prematur—yang menendang saat sedang tidur dalam fase bermimpi (REM). Hal ini diasumsikan seolah-olah bayi masih dalam kandungan.

Dengan menggunakan elektroensefalografi non-invasif (EEG), peneliti membuktikan bahwa bayi memang membangun jaringan otak. Misalnya, gerakan tangan kanan bayi menyebabkan gelombang otak segera menyala di bagian otak kiri yang memproses sentuhan untuk tangan kanan.

Ukuran gelombang otak ini lebih besar pada bayi prematur dibandingkan bayi lahir normal. Hal ini berarti peningkatan aktivitas otak bayi prematur juga lebih besar karena mereka seharusnya masih berada di dalam rahim, layaknya janin.

Mengembangkan tulang, sendi, dan otot yang kuat

Temuan studi baru tadi selain berimplikasi penting bagi perawatan klinis neonatal, juga membuktikan hipotesis yang sebelumnya diungkap Niamh Nowlan dalam wawancara Bulan Juni 2018 oleh Live Science.

Niamh Nowlan, seorang ahli rekayasa hayati di Imperial College London, telah memprediksi bahwa gerakan bayi yang jadi lebih terkoordinasi ketika usianya bertambah, “kemungkinan karena otak mengendalikan kapan dan seberapa banyak bayi bergerak.”

Lalu, dia juga meyakini bahwa gerakan bayi di trimester awal kehamilan murni refleks semata, yang berasal dari sumsum tulang belakang dan tidak memerlukan koordinasi dengan otak.

Lebih dari itu, Nowlan menegaskan bahwa gerakan janin di dalam rahim sangat penting agar bayi tumbuh sehat setelah lahir, terutama untuk tulang dan sendinya.

Dalam studinya yang diterbitkan pada tahun 2015 di Journal European Cells and Materials, Nowlan menggambarkan bagaimana kurangnya gerakan janin bisa menyebabkan berbagai gangguan bawaan, seperti sendi yang memendek dan tulang tipis yang rentan mengalami fraktur.

Oleh karena itulah, para praktisi merekomendasikan agar ibu melacak tendangan bayi setidaknya sekali sehari.

Studi lain yang dihelat Nowlan dan dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE pada Bulan Mei menunjukkan bahwa janin melakukan gerakan bernapas. Bukan dengan menghirup udara, melainkan “menghirup” cairan ketuban.

Nowlan menjelaskan bahwa bayi yang tidak melakukan gerakan ini sering kesulitan bernapas begitu lahir karena belum membangun otot dada mereka.

Bahkan, untuk membuktikan bahwa gerakan begitu penting bagi kekuatan tubuh bayi, Nowlan menghelat studi yang diterbitkan dalam Journal of the Royal Society Interfacepada bulan Januari 2018.

Menukil laman Motherly, ia menemukan bahwa kekuatan tendangan janin meningkat signifikan sejak 20 minggu-30 minggu, dari 6,5-10,5 lbs, yang berarti dari cukup kuat menjadi sangat kuat untuk memantulkan bola tenis.

Nowlan dan tim menyimpulkan bahwa tendangan janin yang menguat membantu bayi mengembangkan sistem neuromuskuler yang kuat setelah lahir.

Mendukung studi Nowlan, peneliti dari Trinity College Dublin juga menemukan manfaat yang sama persis pada gerakan janin embrio ayam dan tikus.

Singkatnya, studi yang diterbitkan Bulan Maret 2018 di jurnal Development ini mengungkap bahwa tendangan janin menstimulasi suatu interaksi molekuler yang mendorong sel dan jaringan embrio untuk membangun kerangka yang kuat sehingga mudah dibentuk secara fungsional.

Artinya, tendangan janin mungkin mengirim sinyal khusus yang memberitahu tubuhnya bahwa tulang perlu dibungkus tulang rawan dan disatukan dengan sendi agar lebih kuat. (*)

Sumber: Beritagar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed